Wednesday, 24 January 2018 22:34

Suka Duka Belajar di Negeri Orang (10)

Written by 
Rate this item
(0 votes)
Bright Horizon Bright Horizon

Ada banyak perlengkapan yang diperlukan untuk memulai hidup bersama keluarga di Ford Collins selain kebutuhan rutin sehari-hari, Kaisa yang pada saat itu berusia 4 tahun sudah bisa didaftarkan sekolah play group. Hanya saja, biaya sekolah sangat mahal jika tidak memperoleh subsidi, untuk itu saya berupaya mencari informasi dari berbagai pihak terutama mahasiswa Internasional dari berbagai Negara lain.

Tidak dibutuhkan waktu lama untuk mendapatkan informasi tersebut, setelah bertanya pada mahasiswa yang terlebih dahulu belajar di Ford Collins, terutama yang berasal dari Malaysia dan Arab Saudi, saya mendapatkan informasi bahwa mahasiswa bisa memperoleh subsidi biaya pendidikan anak bila mana penghasilannya (beasiswa dan gajinya) di bawah 2.500 USD. Sementara, beasiswa yang diberika Ford Fondation kepada saya adalah sebesar 1.500 USD. Itu artinya masih di bawah standar hidup rata-rata masyarakat Amerika yang tidak mampu.

Langkah berikutnya yang perlu dilakukan adalah berkunjung secara langsung ke kantor dinas pendidikan setempat. Di sana ditanyakan secara langsung tentang persyaratan dan kualifikasi anak yang diperbolehkan untuk masuk play group dengan bersubsidi.

Setelah bertemu dengan salah seorang pegawai disana, diperoleh informasi bahwa play group yang dikelola oleh negara telah penuh, lalu mereka memberi saran untuk mencari sekolah lain yang dikelola oleh pihak swatsa, ada beberapa yang sempat disurvei, belakangan diputuskan untuk mendaftarkan Kaisa di play group Bright Horizon, sekolahnya sangat bagus dan hanya ada 8 orang siswa dalam satu kelas.

Sayangnya sekolah ini jaraknya cukup jauh dari Age Village tempat kami tinggal. Selain agak jauh, Braight Horizon tidak menyediakan fasilitas Bus Sekolah, karena itu saya terpaksa harus mengantar-jemput Kaisa setiap hari. Syukurnya, saya memiliki mobil tua yang saya beli sesaat setelah tiba di Amerika seharga 500 USD (5 juta rupiah).

Saya tetap bersyukur, dengan adanya subsidi tersebut anak saya bisa sekolah di sana, tentu dengan standar dan kualitas pendidikan Amerika. Gurunya juga sangat profesional, namanya ms. Lorna, dia sangat menyayangi dan memahami anak didiknya, tidak hanya belajar di sekolah, ms. Lorna juga melakukan kunjungan ke rumah siswa untuk bertemu langaung dengan orang tua siswa.

Pengalaman yang tidak pernah saya lupakan adalah ketika mobil tua saya mogok. Suatu hari, saya menjemput Kaisa sekolah, setelah mendudukkannya di dalam mobil tiba-tiba mobil saya tidak bisa dihidupkan, tidak jelas apa penyebabnya, karena ketika berangkat dari rumah tidak ada kendala sama sekali.

Saya sangat gelisah dengan peristiwa mogok tersebut, apalagi saya tidak memiliki pengetahuan tentang mekanik dan mesin mobil. Saya hanya mencoba membuka kap depan mobil dan melihat aki, sepintas terlihat tidak ada masalah apapun, yang jelas berkali-kali dihidupkan mesin mobil tidak juga mau hidup. 

Saya memutuskan untuk mendorong mobil itu ke pinggir jalan di dekat sekolah Kaisa. Saya pikir dengan meminggirkan mobil tersebut, saya dapat membawa Kaisa pulang dengan menaiki angkutan umum. Ternyata, mobil tidak diperbolehkan sembarangan parkir, jika dibiarkan sembarangan parkir akan ada petugas yang menderek mobil dan pemilik mobil akan didenda.

Kebetulan tidak begitu jauh dari lokasi mogoknya mobil saya, terdapat bengkel mobil yang sedang beroperasi, saya singgah dan bertemu dengan montir bengkel tersebut, dengan sedikit berat hati sang montir berjalan menuju mobil saya yang mogok dan melakukan pemeriksaan. Tak begitu lama ia menginformasikan kepada saya bahwa yang rusak di dalam mobil saya itu adalah sistem komputerisasinya. Saya tidak paham maksudnya apa, namun saya memberanikan diri untuk bertanya berapa biaya memperbaikinya. Menurut montir itu, untuk memperbaiki sistem komputerisasinya dibutuhkan biaya sebesar kurang-lebih 1.000 USD di luar jasa.

Bagi saya uang sebesar 1.000 USD adalah uang yang cukup besar. Bayangkan, dari 1.500 USD beasiswa, 600 USD di antaranya dipergunakan untuk membayar biaya apartemen. Sementara saya harus membiayai kebutuhan hidup lain, termasuk biaya makan dan kebutuan sehari-hari lainnya.

Karena merasa tidak mampu, saya memutuskan untuk memarkirkan mobil tersebut di sekitar sekolah Kaisa, saya harus buru-buru kembali ke apartemen karena saya akan mengikuti kuliah pada sore harinya.

Seperti yang saya sebutkan tadi, jalan satu-satunya untuk dapat kembali ke apartemen adalah dengan menaiki angkutan umum. Saya dan Kaisa berjalan kaki menuju halte Bus, setelah menunggu kurang lebih sekitar 15 menit, bus yang ditunggu tidak kunjung datang. Setelah 30 menit menunggu, saya memutuskan untuk menggendong Kaisa berjalan kaki pulang menuju apartemen.

Dalam perjalanan, saya terpaksa menggendong Kaisa di pundak dan sesekali membiarkannya berjalan sendiri. Itu karena jarak antara sekolah dan apartemen lumayan jauh. Saya masih ingat, di beberapa titik saya terpaksa harus berhenti karena Kaisa kelelahan. Saya yakin, Kaisa pasti akan mengingat kenangan berjalan kaki pulang sekolah pada saat itu.

Setelah pulang kuliah pada hari itu, saya kembali memikirkan mobil saya yang mogok. Untuk menghindari denda, mobil terpaksa harus saya pindahkan.

Saya mencoba mencari informasi di internet tentang jasa mobil derek. Ternyata untuk menderek mobil dibutuhkan biaya antara 250-300 USD. Lagi-lagi pengeluaran yang seperti ini di luar biaya rutin yang biasanya harus dikeluarkan. Jalan keluar yang saya lakukan adalah mencari mobil derek yang gratis. Saya menemukan ada satu bengkel yang dikelola oleh orang Meksiko. Saya menelepon pengelolanya dan bersepakat untuk bertemu di tempat mobil saya yang mogok.

Saya beruntung, sebab selain biaya derek yang gratis, pemilik bengkel tersebut juga mau memberikan kompensasi sebesar 50 USD, tanpa berpikir panjang saya pun langsung menyetujuinya.

Tiba di bengkel, mobil saya ditempatkan di salah satu tempat terbuka. Setelah menandatangani dokumen yang ada dan pemilik bengkel membayar. Pemilik bengkel mendatangkan eskapator, lalu mobil saya ditekan sampai gepeng. Ada juga dalam perasaan saya sedih karena mobil ini telah berjasa dalam satu tahun buat keluarga saya..

Bersambung...

Read 54 times Last modified on Wednesday, 24 January 2018 23:00
Saleh Daulay

Rumah online Anggota DPR-RI Fraksi PAN. Fight for Justice and Humanity.

Add comment


Security code
Refresh

Kontak

Gedung DPR-RI, Jl. Gatot Subroto, Nusantara I, Lantai 19, Senayan Jakarta.

Email: i[email protected]

DPR Links