Pemerintah diminta membuat kebijakan untuk mewajibkan semua masyarakat memakai masker jika mereka berada di luar rumah. Kebijakan tersebut diambil agar prediksi Badan Intelijen Negara (BIN) terkait jumlah kasus pasien positif virus corona jenis baru atau COVID-19 tidak benar-benar terjadi, yang memperkirakan pada akhir Juli nanti kasus COVID-19 akan mencapai 106.287 kasus.

Anggota Komisi IX DPR RI, Saleh Partaonan Daulay menilai, penyebaran COVID-19 di Indonesia semakin kian mengkhawatirkan. Langkah-langkah dan kebijakan yang ditetapkan pemerintah pun kata dia sejauh ini belum menampakkan hasil.

“Di lain pihak, masyarakat semakin banyak yang resah. Kalau berkaca pada prediksi BIN, puncak penyebaran virus Corona adalah pada bulan Juli. Saat itu nanti akan tercatat 106.287 kasus. Dengan jumlah yang sekarang saja kita sudah kelihatan kesulitan, bagaimana nanti kalau prediksi itu benar terjadi,” katanya kepada wartawan, Sabtu (4/4/2020).

Mengantisipasi agar kasus COVID-19 di Indonesia tidak sebanyak prediksi BIN, pemerintah diminta untuk mengambil kebijakan alternatif. Kebijakan alternatif itu kata Saleh merupakan kebijakan yang sangat sederhana, tetapi mudah dilaksanakan dan tidak terlalu memakan biaya.

“Kebijakan itu adalah mewajibkan warga masyarakat untuk memakai masker setiap berada di luar rumah,” desaknya.

Politisi Partai Amanat Nasional (PAN) ini mengusulkan itu merujuk pada kebijakan yang diambil pemerintah Ceko. Kata dia, disana ada kalimat yang dipopulerkan, yakni “I protect you, you protect me”. Konkretnya, jika tiap orang memakai masker, maka semua orang saling melindungi.

“Di sana (Ceko), kewajiban memakai masker tidak hanya bagi orang sakit, tetapi juga bagi yang sehat,” ungkapnya.

Menurut Saleh, kewajiban memakai masker ini bisa diterapkan sebagai pelengkap atas kebijakan sebelumnya. Sebab, social distancing dan physical distancing yang ada di dalam Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tetap saja tidak efektif.

Buktinya kata dia, masih banyak orang yang keluar rumah, dan berinteraksi sosial dalam bentuk kerumunan seperti biasa. Belum lagi, pemerintah tidak bisa dengan tegas melarang orang mudik. Kondisi ini kata dia tentu tidak dapat memutus rantai penyebaran COVID-19.

“Kalau semua pakai masker, mereka yang terpaksa keluar rumah diharapkan terlindungi. Setidaknya, terlindung dari kemungkinan penyebaran akibat droplet. Kalau tidak pakai masker sama sekali, tentu tidak ada filter dan pengaman sama sekali. Setidaknya, masker adalah pengaman minimal yang mesti dipakai,” tandasnya.

Sejalan dengan itu, tambah Saleh, pemerintah dituntut untuk menjamin ketersediaan masker di pasaran. Harganya pun harus terjangkau oleh semua kalangan. Dengan begitu, kewajiban ini bisa ditaati.

“Selain meminta industri untuk memproduksi secara massif, industri rumah tangga dan pekerja rumahan juga diminta berpartisipasi. Mereka tentu dapat memproduksi untuk kebetuhan terbatas di keluarga dan lingkungan sekitarnya,” pungkas mantan Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah.

Sebelumnya, Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Doni Monardo menyampaikan prediksi BIN atas penyebaran COVID-19. Dimana BIN memperkirakan bahwa hingga akhir Juli 2020 nanti, jumlah pasien positif COVID-19 bisa mencapai 106.287 kasus.

 

Sumber: http://m.rri.co.id/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here