Saleh Daulay: Wajar Masyarakat Takut Divaksin Booster, Tapi Ahli Jamin Aman

Survei Indikator Politik Indonesia terbaru menunjukkan sebagian masyarakat Indonesia masih enggan divaksinasi COVID-19 dosis ke-3 (booster). Padahal, program vaksin booster sudah dimulai hari ini secara gratis.

Anggota Komisi IX DPR RI Fraksi PAN Saleh Daulay menilai wajar apabila masyarakat masih ragu untuk divaksin dengan berbagai alasan. Namun, ia mengimbau masyarakat tak perlu khawatir karena vaksinasi, termasuk booster, terjamin aman.
“Ya masyarakat wajar ada kekhwatiran dan takut. Tapi kita harus dengar ahli dan epidemiolog dan ahli kesehatan. Jika mereka jamin ini perlu dan aman dan bahkan emergency use authorization sudah dikeluarkan BPOM, sebenarnya tidak perlu ada yang ditakutkan lagi untuk vaksin,” kata Saleh, Rabu (12/1).
Oleh sebab itu, Saleh meminta masyarakat untuk mendukung program vaksinasi COVID-19 termasuk booster. Dengan dukungan masyarakat, target vaksinasi untuk mengatasi pandemi COVID-19 pun akan cepat tercapai.
“Jadi saya imbau masyarakat ikut program ini sehingga kita bisa capai target pemerintah,” ujar Saleh.
Kendati demikian, ia berharap pemerintah juga terus mendengarkan kekhawatiran masyarakat soal vaksin COVID-19. Misalnya, memprioritaskan penggunaan vaksin halal, mengingat masih banyak warga yang ragu divaksin karena aspek kehalalan.
“Ada kelompok masyarakat dan Majelis Ulama yang suarakan keinginan vaksin halal diprioritaskan. Vaksin halal kan belum lengkap waktu itu sehingga MUI beri keringanan. Tapi sekarang kan sudah ada. Jadi harus dipikirkan itu,” tandas dia.
Lembaga survei Indikator Politik Indonesia sebelumnya merilis temuan persepsi masyarakat. Yakni ‘Pemulihan Ekonomi Pasca COVID-19, Pandemic Fatigue dan Dinamika Elektoral Jelang Pemilu 2024′ yang diadakan pada pertengahan Desember 2021.
Direktur Eksekutif Indikator Burhanuddin Muhtadi memaparkan, survei menunjukkan mayoritas responden enggan menerima vaksinasi booster.
“Soal booster, 54,8 persen tidak setuju, 41,7 persen setuju. Bahkan, dikasih booster pun masyarakat lebih banyak yang tidak setuju ketimbang setuju,” kata Burhanuddin dalam pemaparan survei virtual, Minggu (9/1)
Selain booster, responden juga diminta untuk memberikan pandangannya terhadap vaksinasi anak usia 3 sampai 12 tahun. Mereka juga cenderung lebih tidak setuju, yakni sebesar 63 persen. Sementara, hanya 34 persen yang setuju.
Sumber: https://kumparan.com/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here